Benarkah Kita Bodoh? – Sebuah pertanyaan yang sering muncul ketika kita gagal mengerjakan sesuatu.  Sebuah perasaan tidak berdaya yang tiba-tiba masuk ke dalam hati.  Sebuah perasaan bahwa diri ini bukan siapa-siapa.

Namun benarkah kita seperti itu?

Sebelum kita benar-benar menjudge bahwa kita adalah bodoh, kita perlu melihat terlebih dahulu, apa siy arti kata “bodoh” itu?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) bodoh artinya adalah

  1. Tidak lekas mengerti, tidak mudah tahu atau tidak dapat mengerjakan
  2. Tidak memiliki pengetahuan (pendidikan, pengalaman) (https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/bodoh)

Jika melihat dari pengertian di atas kita memaknai bodoh sebagai sebuah situasi karena kurang pengalaman dan pendidikan dan berarti bisa diselesaikan dengan belajar dan praktek.

Dengan kata lain, perasaan bodoh karena kita tidak mengetahui sesuatu sebenarnya adalah hal yang wajar.

Itu seperti sebuah kode bahwa diri kita memerlukan hal baru untuk dipelajari dan dipraktekkan sehingga kita paham.

Namun bagaimana apabila kita telah belajar, telah praktek namun belum juga memahami?

Apakah itu termasuk dalam golongan bodoh juga?

Tentu saja belum tentu….

Seseorang bisa saja menguasai dengan cepat tentang suatu materi karena memang dia cocok dengan materi itu.

Sebagai contoh, apa yang akan terjadi apabila ikan belajar terbang? Dan harus berlomba dengan burung?

Atau sebaliknya, apa yang akan terjadi jika burung belajar berenang dan harus bersaing dengan ikan?

Tentu akan sulit bagi ikan untuk belajar terbang, dan sulit bagi burung untuk belajar berenang.

Kedua perumpamaan tersebut akan tepat dengan kondisi kita yang jika telah belajar, telah praktek namun belum juga memahami dengan baik suatu pelajaran.

Pertanyaan berikutnya adalah : apakah karena belajar kita kurang banyak? Apakah karena praktek kita kurang sering?

Apa yang terjadi jika belajar dan prakteknya telah dilakukan dengan frekuensi dan durasi yang cukup sering, namun perkembangannya tidaklah seperti yang diharapkan?

Menggunakan Minat Dan Bakat Untuk Berkembang

Situasi di atas banyak terjadi, karena bisa jadi kita adalah ikan yang dipaksa belajar terbang atau bisa jadi kita adalah burung yang dipaksa belajar berenang.

Benarkah Kita Bodoh?

Menemukan minat dan bakat dalam diri kita

Lantas bagaimana caranya kita bisa mengetahui apakah kita ikan atau burung?

Ada begitu banyak metode untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan kita, termasuk untuk mengetahui minat dan bakat kita.

Bisa dikatakan mengetahui minat dan bakat kita seperti upaya untuk mengidentifikasi, apakah kita ikan ataukah burung.

Kita bisa mengatakan bahwa kita adalah ikan, ketika belajar berenang terasa lebih mudah dan menyenangkan.

Hal yang sama dengan minat dan bakat.  Kita bisa mengatakan yang kita kerjakan sesuai dengan diri kita ketika kita merasa lebih mudah mengerjakannya dan terasa lebih menyenangkan.

Mengetahui minat dan bakat akan membantu kita untuk terus belajar dan mengembangkan diri di bidang yang kita senangi.

Menggunakan Minat Dan Bakat Agar Produktif

Setelah kita mengetahui minat dan bakat yang kita miliki, bukan berarti hidup menjadi lebih mudah J.  Masih ada perjuangan berikutnya yang perlu dilakukan agar minat dan bakat itu menjadi sesuatu yang produktif dan dapat menghasilkan.

Utamanya adalah agar kita sendiri bisa hidup sesuai dengan minat dan bakat itu.

Langkah berikutnya tentu saja adalah bagaimana mengasah dan memonetisasi minat dan bakat kita tersebut.

Sebagai contoh, menanam tanaman adalah bakat dan minat yang kita miliki.  Maka mengembangkannya menjadi sebuah keahlian berkebun, desain tanam dan pertanian adalah jalan produktifnya.

Contoh lain, suka sekali foto selfie, maka jalur produktifnya bisa dengan menjadi selebgram dan menerima jasa endorse, dan seterusnya.

Simplenya adalah, minat dan bakat yang telah diketahui itu perlu untuk diasah dan terus dikembangkan agar bisa menjadi layanan ke orang lain dan menghasilkan.

Benarkah Kita Bodoh?

Belajar hal baru, bagi sebagian orang akan sangat menyenangkan.  Namun bagi sebagian orang lainnya bisa jadi berat dilakukan.

Menemukan masalah ketika sedang belajar barangkali akan ada yang merasa tertantang, namun tidak sedikit yang merasa frustasi.

Dan itu yang membedakan seseorang yang berada di jalur minat bakatnya dengan yang bukan.

Mereka yang menikmati dan menjadikannya tantangan adalah ikan yang disuruh belajar berenang.  Sedangkan yang frustasi dan berat bisa jadi adalah burung yang dipaksa untuk belajar berenang.

Menggunakan perumpamaan burung dan ikan akan lebih mudah membuat kita memahami ada hal yang tidak tidak adil disitu.

Dan ketidakadilan itu adalah berhubungan dengan minat dan bakat itu tadi.

Jadi, apakah minat dan bakat penting untuk tumbuh dan berkembang?

Jawabannya akan kembali ke pilihan kita masing-masing.