Cara Pengembangan Diri

Alternatif Cara Pengembangan Diri

Berbicara cara pengembangan diri tentu saja sangat banyak.

Seperti cara untuk belajar, siapa yang belajar tentu saja akan ada banyak cara.

Kita dapat belajar dari berbagai macam referensi seperti buku, seminar.

Tentu akan terasa lebih mantap jika langsung ngobrol dengan narasumber.

Kalau bisa ngobrol apalagi ngopi bareng tentu lebih asik.

Atau kita  dapat mengambil salah satu atau beberapa tokoh sebagai contoh role model untuk pengembangan diri.

Sehingga kita pun dapat ikut melakukan seperti apa yang mereka lakukan.

Yang perlu kita lakukan hanyalah mengikuti jejak mereka.

Misalnya nih, kita ingin belajar tentang bagaimana berjualan lewat Facebook.

Tentunya kita dapat memodel seorang yang ahli dalam bidang Facebook marketing dan meniru apa yang dia lakukan.

Mulai dari bagaimana dia membuat sebuah post, kapan waktu yang tepat untuk melakukan post dan bagaimana cara memfollow up seseorang hingga terjadi closing.

Baca Juga : Ilmu Pengembangan Diri

Pentingnya Pengembangan Diri

Begitu luasnya tema pengemabangan diri, maka kita harus mengambil salah satu tema supaya lebih fokus.

Dengan lebih fokus maka akan membuat kita lebih lebih terarah.

Dalam mengembangkan diri, pastinya ada faktor-faktor yang menjadi menghambat dan mendorong, nanti kita akan bahas lebih lanjut tentang hal ini.

Yang jelas hak untuk mengembangkan diri adalah hak untuk semua orang.

Bahkan bukan hanya sebuah hak saja, menurut saya ini adalah sebuah kewajiban.

Bukankah kita harus menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari.

Bukankah hanya kita manusia yang dianugrahi akal dan pikiran oleh Allah SWT?

Tidak ada mahluk lain yang memiliki keistimewaan seperti manusia.

Inilah yang saya maksud, dengan kelebihan ini, setiap diri kita wajib untuk mengembangkan diri.

Menjadikan dunia menjadi lebih baik dan lebih indah bukankah ini sebuah tugas yang mulia.

Ketika Anda memulai mencoba untuk mengembangkan diri tentulah akan ada wawasan yang jauh lebih maju dari sebelumnya.

Setidaknya dari yang awalnya tidak tahu, menjadi tahu.

Namun seperti pada artikel sebelumnya.

Untuk mengembangkan diri tentunya membutuhkan motivasi dan ini adalah seni.

Baca Juga : Program Pengembangan Diri

Hambatan Pengembangan Diri

Maka selain kita perlu tahu apa yang menjadi pendorong sebuah pengembangan diri, kita perlu pahami juga apa yang menjadi penghambat.

Beberapa penghambat yang seringkali kita alami yang membuat kita sulit untuk mengembangkan diri, diantaranya:

  • Tidak memiliki alasan

Tidak punya alasan artinya tidak ada motivasi. Alasan merupakan sebuah faktor pendorong untuk bergerak.

Misalnya seorang akan makan karena lapar.

Jelas dari contoh ini bahwa yang menggerakan adalah rasa lapar tersebut.

Alasan membuat ada dorongan untuk melakukan.

Demikian juga dengan meningkatkan pengembangan diri.

Tentunya butuh sebuah alasan mengapa pengembangan diri harus dilakukan.

Tanpa alasan yang jelas pengembangan diri akan tidak berjalan atau hanya setengah-setengah saja, alias jalan tanpa keseriusan.

Bukankah setiap apa yang kita lakukan pasti ada alasannya.

Bangun pagi dan berangkat kerja setiap hari atau melakukan amal ibadah.

Bukankah memiliki sebuah alasan?

Mengembangkan diri tentu membutuhkan sebuah alasan yang kuat untuk membuat hati kita tergerak.

Jika tidak memiliki alasan, bangun pagi adalah sebuah beban.

Seolah ada sebuah gaya gravitasi yang berkali-kali lipat untuk tetap berada di tempat tidur dan membutuhkan tenaga extra untuk mengangkat selimut.

Apalagi awalnya pasti berat, hingga menjadi sebuah kebiasaan maka ini akan menjadi sebuah hal yang ringan.

Misalnya umat muslim selama bulan Ramadhan berkewajiban berpuasa.

Bukankah ini membutuhkan sebuah usaha yang keras.

Apalagi di hari-hari awal, pasti membutuhkan penyesuaian.

Alasan menjaga puasa tentu saja tebalnya iman seseorang.

Sehingga dia mau untuk tidak makan dan minum serta ikut dalam “aturan” hingga waktu berbuka tiba.

  • Tidak mau belajar

Bayangkan saja jika setelah kita lahir kita tidak memiliki kemauan untuk berjalan, bisa jadi hari ini kita masih digendong oleh orang tua kita.

Ya, sedari kecil sebenarnya kita dilatih untuk mau belajar.

Belajar tentang segala hal. Lihatlah kepada anak-anak, mereka selalu menanyakan apapun yang mereka temui kepada orangtuanya.

Namun lucunya semakin kita besar seringkali membuat kita enggan untuk belajar.

Sehingga apa yang kita tidak tahu tetap menjadi sebuah ketidaktahuan.

Selain itu tidak berani mencoba hal yang baru.

Sewaktu kita berada di Sekolah Dasar bukankah kita mau mencoba membaca dan menulis sehingga kita lancar.

Ketika dewasa kita justru merasa sudah merasa sudah tahu segalanya.

Merasa sudah berpengalaman dan memiliki berbagai macam titel pendidikan.

Baca Juga : Pengembangan Diri Dan Karir

Inilah yang menjadi penghambat pengembangan diri tersebut.

Hati-hati dengan konsisi seperti ini.

Tidak mau belajar artinya akan sulit menerima hal-hal baru. Ilmu baru pun sulit untuk masuk.

Kita perlu untuk mengosongkan gelas pikiran kita dan kemudian mulai belajar lagi.

Hanya dengan menghilangkan ego kita yang sok lebih pinter akan membuat diri kita belajar dan mengembangkan diri dengan mudah.

  • Negatif Thinking

Negatif thinking atau berpikiran negatif.

Biasanya pemikiran ini, seperti adanya rasa cemas, tidak pecaya atau pun takut di dalam diri seseorang.

Sebenarnya negatif thingking memang benar-benar dibutuhkan.

Terutama untuk menjaga diri kita.

Dalam skala tertentu negtif thingking tetap saja dibutuhkan, namun jika terlalu berlebihan tentu akan sangat menghambat atau bahkan menghentikan apa yang sudah kita lakukan.

Jadi jika dalam kendaraan itu yang namanya positif thingking dan negatif thinking diumpamakan seperti gas dan rem.

Ketika kita melakukan gas terus menerus dan tidak memperhatikan kecepatan lagi maka akan sangat berbahaya, kendaraan akan melaju cepat dan sulit untuk dikendalikan.

Inilah yang menyebabkan kecelakaan.

Sama jika rem ditekan terus dan tidak dilepas, tentu akan berakibat kendaraan tidak bisa melaju.

Contoh lain ketika kita menyebarang jalan.

Sikap terlalu posistif thinking yang berlebihan bisa digambarkan dengan kita menyeberang jalan tol yang ramai namun kita berani dengan kondisi mata ditutup. Ini kelewatan positif thinkingnya, bunuh diri.

Atau ketika mengetahui sangat ramai juga tidak membuat kita menyeberang juga tidak tepat yang tepat adalah mencari sebuah solusi keseimbangan.

Misalnya dengan mencari jembatan penyebrangan terdekat.

Tetap berani menyeberang jalan yang ramai namun tidak menghilangkan unsur keamanan.

Kontrol yang baik terhadap positif dan negatif thinking akan mengoptimalkan pengembangan diri kita, ini akan jauh lebih membangun.

Karena kita dapat mengembangkan diri dengan jauh lebih nyaman dan tetap dalam kewaspadaan.

Seperti contoh diatas, meski mengendarai kendaraan bahkan dalam posisi balapan dalam kecepatan tinggi masih mau menggunakan rem. Sehingga kecelakaan pun dapat dihindari.

  • Terlalu cepat puas diri

Seringkali kita merasa bahwa apa yang kita capai hari ini merupakan pencapaian akhir.

Ibarat naik gunung sudah berada di puncak tertinggi.

Baik itu berupa jabatan, penghasilan maupun pendidikan.

Padahal tugas kita dalam hidup adalah selalu untuk belajar dan belajar.

Maka dari itu ketika berada dalam posisi yang sudah terasa nyaman, sebaiknya kita melihat lagi bahwa kita masih bisa berkembang.

Cobalah untuk mencapai prestasi yang lebih tinggi lagi.

Seringkali rasa puas diri ini hadir ketika kita baru mencapai sesuatu yang baru.

Misalnya seorang atlit tingkat bulu tangkis tingkat RT yang baru saja memenangkan pertandingan tingkat kabupaten.

Kemenangan ini membuat sebuah kenyamanan.

Berpikir bahwa ini adalah akhir.

Pencapaian yang lebih tinggi seolah sudah tidak perlu lagi.

Tidak perlu berlatih lagi, tidak perlu lagi untuk mentargetkan untuk ikut ke pertandingan tingkat propinsi.

Ini yang dinamakan terjebak dalam zona nyaman.

Rasa yang seperti ini membuat kita sulit untuk berkembang.

Karena sudah merasa puas.

Ketika rasa ini datang bagi Anda yang baru saja berprestasi, tentulah hal yang wajar.

Namun jangan sampai rasa ini membuat Anda terlalu nyaman terus berada disana dan berpikir bahwa ini adalah pencapaian akhir.

Pasti karena selalu ada gunung yang lebih tinggi untuk didaki.

Dengan mendaki kembali “gunung prestasi” yang baru adalah sebuah langkah yang tepat dalam pengembangan diri. ini akan memacu diri kembali untuk mengeluarkan yang terbaik.

Pastilah tidak mudah untuk mendaki gunung yang baru namun tentunya akan memberikan tantangan.

Anda pun harus memperkuat diri hingga sampai puncaknya nanti.

  • Tidak mengenal diri sendiri

Tidak mengenal diri sendiri disini bukan berarti terkena amnesia akut ya.

Namun tidak memahami apa yang menjadi kemampuan dan kelemahan dalam diri, itu lho maksudnya.

Seringkali dikatakan bahwa sangatlah penting untuk mau memahami orang lain.

Namun ternyata memahami diri sendiri jauh lebih penting.

Kadangkala banyak mencari cara untuk lebih mengenal orang lain namun lupa untuk memahami diri sendiri.

Kita lupa mengeksplorasi apa yang menjadi kekuatan, kelemahan serta apa yang menjadi passion kita.

Bahkan ketika berhadapan dengan kelemahan kita justru berharap untuk menghilangkannya.

Padahal sebuah kelemahan belum tentu sebuah kelemahan, kadang-kadang menjadi berkah yang bisa dimanfaatkan.

Mari kita lihat contoh para artis apakah yang terkenal semua dari mereka itu pasti tampan dan cantik?

Ternyata tidak bukan?

Bahkan ada beberapa diantara mereka yang jauh dibawah standar rata-rata.

Tapi penghasilan mereka bersaing dengan gaji presiden Amerika.

Bukankah itu sebuah berkah namanya.

Paham dengan diri kita adalah sebuah keharusan.

Dengan ini kita dapat meningkatkan apa yang menjadi kelebihan serta bisa hidup dalam bidang sesuai dengan apa yang kita inginkan.

Tentunya banyak cara untuk lebih mengenal diri Anda sendiri mulai dari cara dengan mengisi kuisioner gratis hingga menggunakan tes sidik jari.

Tentunya dengan mengenal diri akan mempermudah Anda mengembangkan diri.

Mulai dari cara belajar yang lebih mudah untuk kita, bagaimana bergaul hingga menentukan karir.

Pastinya terbantu sekali dengan pengenalan diri.

Hal-hal diatas adalah hal yang sering menjadi penghambat diri.

Tentu saja setiap masalah pastilah ada solusinya.

Pastinya akan sangat panjang jika semua solusi kita bingkar disini.

Penutup

Dari ke lima hal tersebuat kita pun dapat melakukan evaluasi, hal mana yang seringkali menjadi penghambat diri.

Yang jelas ketika dapat menghancurkan tembok yang menjadi penghalang Anda bisa menjadi seorang yang lebih kuat, lebih dewasa serta bijaksana.

Dan ingatlah bahwa hak pengembangan diri sebenarnya bukanlah sebuah hak, namun ini kewajiban kita sebagai manusia.